Tuesday, October 12, 2010

JIP 1980, Anez 1982 dan Ibu Rusina Dalam Kenangan



Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Diary 1980an. Bikin malu. Kamar saya pantas disebut sebagai gudang buku. Karena tak ada klasifikasi. Tak ada call number di punggung masing-masing buku. Tak ada mekanisme penyimpanan dan penemuan kembali yang sistematis.

Akibatnya, begitu ada perubahan dalam pengaturan kamar, maka penempatan buku, majalah, koran, kliping koran, menjadi chaos adanya.

Di bulan Agustus 2010, ketika memindah komputer agar kabel USB Wi-Fi cukup menyambung ke cantenna, antena kaleng roti Khong Guan buatan sendiri, yang saya parkir di atas genteng agar mampu menyambar sinyal hotspot di Wonogiri, membuat mutasi parkir bahan-bahan pustaka terjadilah. Buku yang biasa ada di pojok kanan misalnya, tiba-tiba entah ada di mana. Dan saat mencari-carinya kembali menjadi beban tersendiri.

Tetapi kondisi itu kadang juga memunculkan hikmah kecil. Kejutan kecil. Sering terjadi apa yang oleh kalangan ilmuwan peneliti disebut sebagai serendipity. Terjemahan kasarnya, kemampuan menemukan sesuatu ketika sedang mencari hal lainnya. Madame Curie (1867-1934) dan Charles Goodyear, menghasilkan temuannya berupa partikel atom dan ban karet berkat sentuhan serendipity itu.

Hal ajaib yang saya temui di kamar awal September 2010 ini adalah menemukan kembali buku harian saya tahun 1980. Tahun itu pula saya pertama kali menjadi penduduk Jakarta. Sering jadi bahan ejekan teman kuliah saya, Bakhuri Jamaluddin, saat membonceng motor Hondanya berplat merah mengarungi Rawamangun-Pramuka-Diponegoro-Sudirman-Kebayoran Baru. Orang Suruh Salatiga yang sudah lama tinggal di Jakarta itu mengejek orang Wonogiri yang baru di Ibukota.

Juga tahun itu sebagai awal saya menjadi mahasiswa JIP-FSUI. Tes wawancara berlangsung di Ruang 1 Unit 1 FSUI, saya tuliskan di buku harian sebagai "biasa-biasa saja." (Selasa, 15 Juli 1980).

Saya sudah lupa bahwa saat itu saya mengobrol dengan Rizal Saiful-haq, teman kuliah lainnya, yang kemudian beranggapan bahwa jawaban "biasa-biasa saja" saya itu sebagai indikasi bahwa saya bakal tidak lulus tes sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan. Tetapi buku harian saya tertanggal Kamis, 16 Oktober 1980, ada catatan lain berbunyi : "Jadi guide belajar K & K untuk Rizal."

Sebelumnya, catatan Hari Kamis 18 September 1980 tergurat : Kuliah PIP (Pak Royani), laporan isi majalah Library Trends di muka kelas. Kualitasnya jauh dari lengkap, tapi performans di muka kelas saya ubah menjadi panggung lawak : "mulut-mulut tertawa, mata-mata bersinar, wajah-wajah gembira."

Saat itu saya benar-benar sok tahu, melaporkan topik yang tidak saya kuasai. Karena tiba-tiba Pak Royani meminta saya bercerita mengenai isi artikel pertama majalah itu : pengembangan perpustakaan di correctional facilities. Saya tidak tahu istilah ini. Yang tahu adalah sarjana Sastra Inggris UGM, Magdalena Lumbantoruan dari LPPM, dan dia lalu menjelaskan artinya saat itu pula. Penjara.

Saya merasa mati rasa di panggung saat itu. Istilah komedinya, kena bom. Mampus. Saya membahas tentang perpustakaan penjara yang saya tidak tahu tentangnya. Tetapi syukurlah, saya masih punya sedikit akal bulus : mampu mengubah kebodohan itu menjadi pentas tertawaan.

Hari Radio 11 September 1980. Tanggal ini juga HUT-nya Pak Sulistyo Basuki. Mata kuliah pertama Hari Kamis itu adalah MKI-nya Pak Junus Melalatoa. Saat itu saya ditegur Zulherman : "Anda tidak cerah hari ini." Zul Anda tahu sebabnya ? Saat itu saya tidak punya uang.

Siangnya, sialnya, lalu ada tes dadakan Bahasa Perancis yang diampu oleh almarhumah Ibu Nurul Oetomo. Bu dosen yang charming. Teman sekelas dari jurusan bahasa Inggris, termasuk Siti "Upik" Rabyah Parvati (putri Sutan Syahrir), Astrid Zaskya, Margareta A. Malik dan Sylvia, sering menggoda dan mencandai bahwa "saya adalah murid favorit dari Bu Nurul itu pula" :-)

Catatan saya sebulan kemudian, Kamis, 23 Oktober 1980 : "Hari itu dipelonco bu Nurul, bhs Perancis, (diminta) membaca, baca, baca !" Itu terjadi karena lidah Jawa medok saya masih kesulitan ber-parler francais secara berfasih-ria.

Kalau tes, saya sering nyontek pekerjaan Upik tersebut. Ia pernah menulis surat pembaca di harian Tempo dan saya ledeki sebagai himbauan untuk rakyat Indonesia agar menjadi golput. Upik merengut, tetapi bukan tanda marah. Melainkan tanda senang memperoleh komplimen yang tak terduga atas surat pembacanya. Saya pernah memberikan daftar artikel ilmiah yang terkait topik skripsinya, tetapi ketika bertemu lagi di Perpustakaan LIA Pramuka dan saya tanya tentang skripsinya itu, Upik hanya bilang : "Ah, forget-lah…"

Sebelumnya, Rabu 27 Agustus 1980, saya main-main ke TB Gramedia, Blok M. Membeli dua buku. Yang nraktir karcis biskotanya adalah Zulherman. Zul bersama Teddy adalah raja karcis bis kota di antara Angkatan 1980. Teddy pernah cerita saat ikut gathering mahasiswa Jurusan Perancis ("yang cantik : Dewi Primawati, ingat Ted kau yang memotretnya atas pesanan saya ? Pesta nikahnya Dewi itu di India.") bahwa hobinya adalah mengumpulkan karcis bis kota. Kondektur !

Mungkin Haris "Mr. Daripada" Nasution (almarhum) yang bukan Batak tetapi Jawa asli asal Madiun dan M. Djuhro, juga raja karcis bis kota. Pernah di Kampung Melayu, gara-gara pakai karcis, saya dan Bakhuri jadi diomeli kondektur. Mungkin dia merasa curiga, tua-tua kok masih mengaku sebagai mahasiswa.

Rabu, 20 Agustus 1980. Tertulis : Muncul ide menerjemahkan buku Library Power-nya James Thompson, bersama kawan-kawan. Ide ini, syukurlah, yang masih ingat momennya adalah kini kakek tercinta beberapa cucu, yang menjabat sebagai Begawan Akik Sakti, pemilik gerai bengkel dan toko batu mulia Safir Andaru di Ciledug, Subagyo Ramelan. Thanks Bag. Padahal aku sudah lupa, kapan aku menyampaikannya di kelas.

Di catatan harian, juga tidak ada. Mungkin jualan ide itu aku lakukan saat kuliah pertama PIP, Kamis, 21 Agustus 1980. Saat itu dalam introduksi masing-masing saya menyombong, "sebagai Kepala Perpustakaan Universitas ASEAN, calon."

Teman ngobrol saya saat itu antara lain Reno Ilham Nasroen, yang kini berstatus sebagai Neli. Nenek lincah. Tanpa kebaikan hati Errie pasti saya tak bisa ikut wisuda, 5 Januari 1985. Karena saya memiliki tabungan tulisan di majalah Pembimbing Pembaca (Balai Pustaka), yang antara lain Errie jadi redaksinya, saya lalu berhutang honor secara prematur atau ijon untuk menebus toga wisuda. Makasih, Errie.


Memotret para dosen. Seingat saya, saya tidak pernah ikut kuliahnya Ibu Rusina (foto). Tetapi saya pernah memotret beliau, juga semua dosen JIP-FSUI, menjelang peringatan 30 Tahun Pendidikan Perpustakaan di Indonesia. Foto-foto itu ikut dipajang pada pameran yang dilaksanakan di Gedung Kebangkitan Nasional, November 1982.

Kaitan antara saya dengan Ibu Rusina sedikit banyak terbentuk dua tahun sebelumnya. Ketika FSUI mengadakan Pasar Murah HUT/Dies FSUI Ke-40, November 1980. Mahasiswa JIP-FSUI diberi mandat membuka gerai pasar buku murah. Kebetulan saya, Arlima Mulyono ("Ibu Soma memuji Ipit dan saya :-) sebagai memiliki tulisan bagus") dan Sri Mulungsih bertugas memajang buku-buku dari penerbit dan toko buku Djambatan, Jl. Kramat Raya. Pemiliknya masih berkerabat dekat dengan Ibu Rusina.

Supervisor pameran saat itu, almarhum Bapak Dr. Karmidi Martoadmojo. Saya dengar kabar wafatnya Pak Karmidi baru pada tanggal 23 Juli 2010. Saat itu, sebagai pendiri komunitas Epistoholik Indonesia saya diundang presentasi dalam acara Jagongan Media Rakyat (JMR 2010), 22-25 Juli 2010, di Jogja National Museum. Sungguh ajaib, di penginapan, saya sekamar dengan anak muda yang bersama dua kawannya, tiba-tiba malam itu ngecuprus, bincang-bincang asyik, tentang perpustakaan.

Antena saya langsung menyuruh untuk nimbrung obrolan mereka. Anak muda itu bernama Hendro Wicaksono, penemu/pengembang peranti lunak katalogisasi dan klasifikasi bahan pustaka secara online. Mereknya : Senayan. Saya bangga akan prestasi dirinya itu !

Selain berbagi kabar duka tentang Pak Karmidi, juga meninggalnya Wakino yang petugas perpustakaan JIP-FSUI, Hendro dan saya mengobrol sampai meliwati pucuk malam di wisma penginapan yang bekas Kampus ASRI itu, yang konon salah satu ruang kelasnya pernah dipakai mahasiswanya untuk bunuh diri. Termasuk mengobrolkan isi bukunya Eric S. Raymond, The Cathedral and the Bazaar (1999), yang secara ajaib sama-sama kita sukai !

Ngobrol punya ngobrol, Hendro adalah alumnus JIP-FSUI 1994. Ia kini mengelola perpustakaan di Kementerian Diknas di Senayan, yang bahan pustakanya merupakan limpahan dari koleksi British Council. Di Perpustakaan Diknas ini, gara-gara koneksi Bakhuri, saya di tahun 1984 sempat juga menjadi tenaga bayaran sebagai petugas katalogisasi & klasifikasi.

Setelah Hendro cabut dari wisma dan kembali ke Jakarta, saya ketemu dengan nara sumber lainnya. Sama-sama memakai nama Hendro. Dr. Hendro Sangkoyo. Ia di JMR 2010 mengupas masalah kekejaman korporat terhadap rakyat yang sudah menderita akibat bencana luapan lumpur panas di Sidoarjo. "Dari mengobrol sepintas, kita adalah teman," begitu tutur Mas Hendro yang plontos itu. Setuju.

Baru-baru saja ia menulis di Kompas, 28/9/2010, berjudul "Lahirnya Generasi Baru Pembalikan Krisis : Catatan Untuk Alexander Supeli." Saya suka istilah "pembalikan krisis" darinya itu. Mungkin kebetulan saya bisa bertemu Hendro dan Hendro itu, karena ayah saya bernama Kastanto Hendrowiharso ?

bambang haryanto,jip-fsui,rusina syahrial-pamoentjak,universitas indonesia,jurusan ilmu perpustakaan

Ibu Rusina dan Saya : 1982. Kaitan selanjutnya antara saya dengan Ibu Rusina terjadi dua tahun kemudian. Tepatnya 3-4 Februari 1982. Saat itu JIP-FSUI menyelenggarakan Loka Karya Pemanfaatan Media Teknologi Untuk Promosi Perpustakaan Perguruan Tinggi (foto).

Moderator untuk salah satu presentasi makalah saat itu antara lain adalah Ibu Rusina, dan saya yang masih berstatus mahasiswa saat itu menjadi nara sumbernya. Sebagian teman konon kemudian berkasak-kusuk bahwa "sejak presentasi itu Bambang punya tingkah laku, gaya berjalan dan memiliki ukuran kepala yang berbeda. Bahkan gaya merokoknya pun berbeda, karena kini ujung yang dihisap adalah ujung rokok yang menyala :-("

Peristiwa penting lain dari hidup saya di tahun 1982, selain meninggalnya ayah saya 9 Desember 1982, saat itu saya jatuh cinta sama mahasiswi Diploma Sastra Perancis (1981). Ia setahun kemudian merangkap berkuliah di Jurusan Arkeologi. Namanya : Widhiana Laneza.

Saat Ospek 1982, kebetulan Teddy jadi tukang potret (dokumentasi ospek), lalu saya minta Teddy untuk memotretnya. Foto itu masih ada, warna dan detilnya telah memudar, tetapi kenangannya masih begitu jelas tergambar.

Teddy adalah teman sejati. Selain pernah mengenalkan saya stuff bernama "Stud" saat saya tidur di tempatnya, di Cipinang Lontar, ia berhasil dengan baik memotret Anez itu. Oh ya, baru-baru ini (September 2010) ketika saya memunculkan obrolan tentang stuff itu via SMS, Teddy merasa tidak ngeh, sudah lupa sama sekali.

Lalu ia bertanya : "Apakah saya sudah dilanda gejala pikun ?"
Menurut saya sih tidak.

Kuncinya terletak pada masalah manajemen memori, manajemen kenangan. Kalau kejadian sehari-hari tidak pernah kita catat, maka antara hari satu dan hari lainnya akan seperti nampak sama. Dalam setahun, himpunan 365 hari itu akan hanya mirip gumpalan kenangan tanpa makna.

Bila tahun dan tahun itu kita lewati, di mana antara satu gumpalan dengan gumpalan lainnya hanya nampak identik, seperti bulir-bulir tasbih, maka tahun berlalu menjadi nampak cepat sekali.

Kalau dicatat, maka setiap hari mampu menjadi unik. Mungkin seperti sidik jari. Ketika membacanya kembali, semua kenangan itu hadir seperti film yang berparade di depan mata kita. Bagi saya sungguh menakjubkan ketika merasakan otak ketika bekerja, memanggil kenangan masa lalu, kemudian semakin diawetkan dengan menuliskannya untuk dibagikan kepada orang lain. Informasi akan menjadi berguna hanya bila dibagikan, bukan ?

Photobucket

Hasil jepretan Teddy di tahun 1980 itu (foto di atas) sudah Anez (barisan paling depan kanan) terima. Dalam kesempatan apel di Cilandak saya pernah didongengi ayahnya, di meja makan, mengenai beragam makanan khas Senegal. Tetapi jatuh cinta saya dengan Anez itu tidak berhasil. Tak ada kontak lagi sejak tahun 1987 antara kita. Walau pun demikian energi cinta itu sempat menjadi buku kumpulan humor satwa. Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987).

Termasuk berisi lelucon tentang anjing, satwa yang disukai Anez. Kemudian pada salah satu blog saya, yang saya tulis sekitar tahun 2004, dirinya saya gurat sebagai salah satu wanita indah dalam hidup saya.

Setelah delapan belas tahun, kaitan antara kita terjadi lagi. Tanggal 22 Desember 2005, tiba-tiba saya mendapat kiriman email dari seseorang yang tidak saya kenal. Tetapi subjeknya : Widhiana Laneza. Email itu dari kakaknya, Verdi Amaranto, yang saat saya main ke Cilandak dulu itu ia masih menuntut ilmu di Paris.

Mas Anto cerita, bahwa melalui bantuan Google, dirinya telah menemukan blog saya yang memajang nama adiknya itu. Lanjut cerita, ia ingin memberi kabar : Di Denpasar, 20 Desember 2005, Widhiana Laneza telah meninggal dunia. Tiga hari setelah pernikahannya.

Kembali naik JIP lagi. Dua tahun kemudian, 1984, Ibu Rusina, Ibu Lily K Somadikarta, Ibu Soenarti Soebadio, juga Siti Sumarningsih, mendapat undangan menjadi nara sumber loka karya perpustakaan perguruan tinggi di Kampus Universitas Diponegoro, Semarang. Saya juga ikut menjadi nara sumber, walau skripsi belum rampung, dan harus usung-usung beragam hardware untuk presentasi di Aula Perpustakaan UNDIP di Pleburan itu.

Saya sempat menuliskan hasil perjalanan itu di Majalah KJIP, juga sembari mengutip isi bukunya Alvin Toffler, The Third Wave (1982), dan rada bercanda bahwa kami "saat itu benar-benar menjadi anak buah Prabu Menakjinggo. Karena kami tinggal di Hotel Blambangan."

Saat itu saya meminjam paksa tape recorder inventaris JIP-FSUI yang digunakan oleh AC Sungkana Hadi, Hartadi Wibowo dan saya, saat mensigi pendapat para pustakawan di lingkungan UI tentang pendirian perpustakaan pusat UI. Obrolan saat itu dengan Ibu Endang Pratiwi, pustakawati Fakultas Psikologi UI, telah saya gunakan sebagai senjata "merayu" suaminya, Prof Sarlito Wirawan Sarwono, di tahun 2004. Mungkin berkat rayuan itu yang membuat beliau sebagai juri bersama Maria Hartiningsih dan Tika Bisono, jadi terbujuk memenangkan saya dalam Mandom Resolution Award 2004.

Kembali ke survei terkait perpustakaan pusat UI. Nara sumber favorit kita bertiga saat itu adalah pustakawati Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. mBak Winda. Ia cantik sekali.

Tape recorder yang stereo itu sering menjadi rebutan pemakaiannya antara Teddy dan saya. Kalau Teddy suka lagu-lagu slow rocknya Scorpion, tape recorder inventaris JIP-FSUI itu di Semarang saya gunakan untuk menguping kaset duo America. Salah satu lagu favorit saya adalah : "A horse with no name." Dan juga dari duo Simon & Garfunkel : "The only living boy in New York."

Meloncat tahun 2010. Rizal Saeful-haq telah berbaik hati menulis di wall akun Facebook saya (29/9/2010). Terima kasih, Rizal.Berisi berita duka :

"Ya Allah, berkahilah segala amal mulia Guruku, Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak. Jadikanlah ilmu yang diajarkannya kepada kami dan diwariskannya kepada generasi-generasi sesudahnya menjadi ilmu yang manfaah, menjadi amal yang pahalanya selalu mengalir. Ampuni segala dosanya, masukkanlah dia ke dalam golongan hamba-Mu yang shalehah. Limpahilah kami kekuatan untuk meneruskan perjuangannya. Amin Ya Rabbal 'Alamin!"

Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak wafat tanggal 28 September 2010.
Dalam usia 85 tahun.

Kabar duka itu kadang merujit-rujit sisi terdalam hati saya. Juga saat menulis catatan ini. Kenapa aku baru menulis kenangan untuknya, ketika beliau sudah kembali keharibaan Allah ? Kenapa kita tidak menulisnya ketika beliau-beliau, para dosen kita itu, saat masih bisa bertegur sapa dengan kita, walau pun hanya lewat dunia maya ?


Wonogiri, 30 September 2010

Labels: , , , , , , , , ,

Thursday, January 28, 2010

Henin, Australia Terbuka 2010 dan Widhiana Laneza




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


The China Syndrome.
Sebuah idiom dari disiplin ilmu fisika nuklir.

Juga judul film terkenal tahun 1979 yang dibintangi Jane Fonda dan Michael Douglas. Idiom itu menggambarkan bila terjadi bencana pada sebuah reaktor nuklir, bangunannya akan meleleh. Maka semua muatannya akan merembes ke tanah. Hingga mampu menjangkau sampai ke negeri China.

Idiom yang sama dalam ranah di luar fisika nuklir justru menunjukkan China sebagai ancaman. Sebagaimana tulis Justin Lahart di Wall Street Journal (6/10/2005), sindrom China itu merujuk pada “tingkah laku, kebijakan atau situasi yang karakteristiknya terkait China, juga potensi atau bencana itu sendiri yang utamanya melibatkan China,” tulisnya.

Ia lalu memberi contoh sindrom China yang terjadi pada Korea Selatan. “China kini menguasai 20 persen dari total perdagangan Korea Selatan,” tulisnya. Mengamini konteks yang digaris oleh Justin Lahar tersebut maka sindrom China juga telah mengamuk di Indonesia.

Top korupsinya. Saya pernah menulis opini pendek di kolom “Smes,” di Kompas (15/5/2004) ketika berlangsung turnamen bulutangkis beregu Piala Thomas dan Uber 2004 :

“Lihat produk yang diasong di KRL Bogor-Jakarta, mulai dari jarum, peniti, gunting kuku, korek kuping, hingga korek api gas dan seabrek produk manufaktur lainnya. Hampir dipastikan semuanya itu buatan China. Serbuan China kini juga telah emnghancurkan tim Uber dan tim Thomas kita di kandang sendiri. Apa lagi yang bisa dibanggakan dari negeri yang korupsinya top ini ?”

Terkait wabah korupsi dan olah raga, saya saat ini justru memimpikan serbuan China ke Indonesia. Sebagai ilham dan praksis untuk menghentikan, atau menghancurkan apa yang menjadi sinyalemen mantan pelatih PSMS Medan, Parlin Siagian (Kompas, 25/1/2010) : “Kompetisi sepakbola kita dikuasai mafia. Jadi semua tim menghalalkan segala cara untuk menang.”

Kita harus meniru China.

Utamanya tentang gebrakan pemerintahnya seperti dilansir Xinhua (27/1/2010) tentang beberapa petinggi Chinese Football Association (CFA), PSSI-nya China yang ditahan untuk investigasi. Termasuk wakil ketua CFA, Nan Yong dan Yang Yimin, dan juga Zhang Jianqiang, mantan direktur asosiasi wasit. Semua diduga terlibat skandal suap terkait pengaturan skor hasil pertandingan.

Chindia Rising. Di kancah tenis dunia, sindrom China juga menggetarkan pentas Australia Terbuka. Lolosnya dua petenis putri China, Li Na dan Jie Zheng, di semifinal pesta Grand Slam pembuka 2010 itu merupakan sisi lain dari wajah kebangkitan negeri Tirai Bambu itu.

Realitas ini meneguhkan tesis Dr. Jagdish N. Sheth, Charles H. Kellstadt Professor of Marketing dari Emory University’s Goizueta Business School (AS) dalam bukunya, Chindia Rising : How China and India Will Benefit Your Business (2008). Kebangkitan China dan India, menurutnya, akan memakmurkan dunia.

Sementara kebangkitan petenis China, Li Na, siap mengobrak-abrik urutan daftar 10 petenis top dunia. Walau di semi final ia kalah dari “the lady jumbo” Serena Williams,7-6 dan 7-6, fakta itu menggariskan sejarah betapa dalam lima kali bentrokan Li Na mampu meladeni dengan ketangguhan ibarat Tembok China. Bahkan ia pernah menaklukkan Serena di tahun 2008. Sindrom China akan lebih mengancam di lapangan tenis wanita pada masa-masa mendatang

Jangan lupa Jie Zheng.

Ia mencatatkan sejarah sebagai petenis China pertama lolos ke semifinal Australia Terbuka. Pentas yang sama juga ia duduki saat terjun di Wimbledon 2008. Di Melbourne, tempat ia meraih juara dobel di tahun 2006, ia bilang, “lapangan ini memberi keberuntungan pada saya. Saya berharap perjalanan saya akan berlanjut.”

Ia katakan itu sesudah sukses menekuk Maria Kirilenko, 6-1 dan 63. Tetapi di semifinal ia menghadapi pelaku kisah dongeng, Justine Henin. Jie Zheng yang masa kecilnya menekuni bulutangkis itu harus mengakui keunggulan petenis Belgia, 6-0 dan 6-1.

Impian milyaran warga China untuk melihat dua petenisnya berlaga di puncak, tertunda. Boleh jadi, justru karena hal itu mereka mungkin semakin menggenggam pesan Konfucius tentang karakter seorang juara. Juga pantas kita camkan ajarannya :

“Seorang juara bukanlah mereka yang tidak pernah kalah. Tetapi mereka yang kalah, dan terjatuh, tetapi selalu mampu untuk bangun kembali.”

Kini final di hadapan mata kita.
Hari Sabtu, esok. Siapa juaranya ?
Henin atau Serena ?

Komentator tenis terkenal di televisi Star Sports, Vijay Amritaj, memilih : Serena.

Kontributor tenis untuk ESPN.com, Ravi Ubha, menjelaskan pelbagai fakta sejarah tentang peluang come back-nya seseorang petenis untuk meraih juara.

Data yang dijejer wartawan tenis berpangkalan di London, lulusan jurusan bisnis McGill University dan diploma jurnalisme dari Concordia University, keduanya Montreal, Kanada, menarik.

Misalnya, Kim Clijsters.
Gelar sebelum come back, 1. Sesudahnya : 1.
Jennifer Capriati : 0-3.
Bjorn Borg : 11-0.
John McEnroe : 7-0.
Monica Seles : 8-1.

Maaf Vijay. Maaf Ravi.

Saya lebih menjagoi Justine Henin untuk meraih juara. Serena Williams yang permainannya penuh tenaga dan brutal itu, akan hanya membuahkan angka-angka unforced error yang bertubi-tubi bagi dirinya. Ia pun akan frustrasi. Ingat, ia didenda berat karena memaki-maki penjaga garis yang berwajah Asia ?

Serena yang meledak-ledak akan menabrak dinding yang dibangun Henin, dengan ramuan ketegaran mental, kekomplitan dan variasi permainan yang kaya. Dan lihatlah, walau hanya memiliki tinggi badan 1.68 m (Serena : 1.75 m), petenis kelahiran Liege 1 Juni 1982 itu memiliki kecepatan serta footwork yang mampu menjaga inci demi inci lapangan.

Jangan lupa kesaktian backhand satu tangan, yang menjadi senjata andalannya. Bahkan seorang John McEnroe mengatakan bahwa backhand satu tangan Henin itu sebagai yang terbaik, baik bagi petenis wanita atau pria saat ini, yang merupakan modal dahsyat Henin sehingga mampu bertahan sampai kini.

Belum lagi seorang legenda Martina Navratilova ketika berlangsungnya turnamen Perancis Terbuka 2007 sampai perlu mengatakan bahwa ,“permainan serang Henin itu fenomenal…seperti kita melihat aksi seorang Federer perempuan.”

Sudahlah. Saya menjagoi Henin, siap deg-degan, siap pula kecewa, karena : “Ini masalah pilihan hati, Vijay. Ini masalah emosional, Ravi.”

Barangkali ini perwujudan dari indra keenam. Persis seperti nama pusat pelatihan tenis yang dihasilkan dari kolaborasi Justine Henin dan pelatihnya, Carlos Rodriguez, yang diresmikan Mei 2007 dan bernama indah : 6th Sense Academy.

Ketika lolos menuju semi final ia berkata : “Saya memiliki mimpi. Saya berusaha berjuang sebaik mungkin. Bila pun nanti kandas, semuanya terasa luar biasa.”

Terima kasih, inspirasimu, Henin. Hal itu pula, terkait di luar masalah tenis, saya mendukung Henin karena semata-mata saya merasa memiliki kaitan dengan Belgia. Negeri inilah asal petenis yang lahir dari ayah Jose Henin dan ibu Françoise Rosière, berkebangsaan Perancis, guru sejarah yang meninggal dunia ketika Henin 12 tahun usianya.

Di ibukota Belgia, Brussels, adalah pula kota tempat almarhumah Widhiana Laneza dilahirkan.

Apakah kau di sana telah ketemu Françoise Rosière, Anez ?
Lalu saling cerita tentang sejarah Perancis. Atau tentang anjing. Bukankah anjingmu juga kau namai dalam bahasa Perancis, Grigri, yang berarti jimat itu ?

Mimpi itu memang telah lama kandas. Tetapi bagiku, momen itu, semuanya masih saja terasa luar biasa. Seorang Henin, hari ini, menjadi pemicunya.



Wonogiri, 29 Januari 2010

sfa

Labels: , , , , , , , , ,

Tuesday, December 22, 2009

Flashbacks of a Fool




Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Penulis lirik. Lagu “Penny Lane” ikut teronggok di pojokan. Lokasi : sisi barat daya (?) toko buku QB, Jalan Sunda, Jakarta.

Di dekatnya terdapat rak buku-buku hukum, berhimpun dengan buku-buku tip memelihara anjing. Bukunya Jay Sankey, Zen and the Art of Stand-Up Comedy (1988), juga berada di sana. Kluster yang menggelitik : hukum, komedi dan anjing campur aduk jadi satu.

Lagu ciptaan Paul McCartney dari The Beatles tentang sebuah lorong kecil kota Liverpool itu pernah memicu kontroversi. Sobat saya Ardiyani, yang tinggal di Liverpool, pernah mengirimkan berita dari The Sunday Times (16/7/2007) bahwa nama itu hendak dihapus.

Karena terkait nama James Penny, juragan budak belian masa kolonial. Ah, Inggris, rupanya juga ketularan budaya munafik, karena ingin mengubur masa lalunya yang kelam.

Lagu “Penny Lane” itu terhimpun dalam buku kumpulan lirik-lirik lagu. Sebelum Internet marak, buku kumpulan lirik lagu-lagu merupakan salah satu buku yang menarik untuk ditengok ketika jalan-jalan ke toko buku.

Saya tidak tahu persis apa daya tariknya. Saya toh tidak mampu memainkan alat musik satu pun. Tetapi selalu saja terlintas, juga selalu naik dan turun, niatan ingin menjadi penulis lirik lagu.

Niatan itu sempat naik tensinya ketika menonton film The Rocker (2008) dan menikmati lagu ciptaan anak muda Curtis (Teddy Geiger) yang liriknya mengiris. Mengikuti lagu “Tomorrow Never Comes” yang muncul di film itu, benar-benar bikin iri. Iri kagum, bukan iri dengki.

Pada film tentang kesempatan kedua bagi Robert 'Fish' Fishman (Rainn Wilson), si penabuh drum bugil (yang mendunia karena disiarkan di YouTube) dalam meraih karier, sungguh mengagumkan mendapati anak muda yang mampu menulis lagu yang memiliki daya magis daya sedemikian mencengkam tersebut.

Lagu-lagu semacam itu, merujuk pengakuan anak muda jenius lainnya yang juga penyanyi dan pencipta lagu terkenal, Taylor Swift, tidak lain merupakan “musical diaries to record her feelings.”


The Butterfly Effect. Lagu menarik lainnya adalah “If There Is Something” dari Roxy Music dalam film Flashbacks of a Fool (2008). Daniel Craig, sang James Bond terbaru itu, menjadi bintang sekaligus produser film ini.

Film drama Inggris ini, disutradarai Baillie Walsh, berkisah tentang bintang film Hollywood yang berefleksi mengenai hidupnya setelah memperoleh kabar kematian sahabat karibnya di masa kecil.

Film ini antara lain menebar hikmah, bahwa kita pada umumnya tidak mau berubah kecuali bila dalam perjalanan hidup itu menabrak sesuatu yang keras, sesuatu yang mau tak mau harus membuat kita berubah. Pesan lainnya mungkin lajim dikenal dalam teori khaos dikenal sebagai efek kupu-kupu.

Adagiumnya yang terkenal, yang juga muncul dalam film The Jurassic Park (1997), bahwa “kepak sayap kupu-kupu di pelabuhan Sydney akan membuahkan badai di daratan China.” Merujuk fenomena itu, di era Internet ini, seorang blogger favorit saya, Jeff Jarvis, menulis bahwa “kecil sekarang adalah besar yang baru.”

Buktinya di Indonesia ada di depan mata kita semua. Gerakan menghimpun koin untuk mendukung Prita membuat lembaga pengadilan dan RS Omni Internasional yang menghukum Prita menjadi tidak ada artinya. Mereka kini berbalik status menjadi paria.

Gerakan sejuta Facebookers mendukung Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah juga telah membuat institusi hukum kita, termasuk wibawa Presiden SBY sendiri, tergerus habis citranya. Mereka kini juga pantas hanya berstatus sebagai paria.

Menabrak masa lalu. Efek kupu-kupu itu juga tergambar, walau tipis, dalam film Flashbacks of Fool. Yaitu saat sang tokoh Joe Scot (Daniel Craig) setelah gagal bunuh diri karena kariernya di Hollywood habis, kembali ke kampung halaman di desa kecil berpantai di Inggris.

Untuk menengok kuburan teman karibnya. Tetapi dirinya harus juga memergoki parade kenangan masa lalu, sekaligus mendapati konsekuensi atas perbuatan yang ia lakukan di masa lalu. Termasuk mendengar kematian Evelyn. “Tertabrak kereta api, dan kepalanya tidak ditemukan. Konon digondol oleh sekawanan anjing,” demikian kabar yang Joe terima.

Evelyn adalah ibu muda binal, tetangganya, suka selingkuh dan gemar daun muda. Ia pula yang menggoda Joe muda dalam petualangan seksnya yang pertama. Kesalahan yang harus ia bayar, yaitu putus cinta dengan Ruth, kekasihnya.

Ketika keduanya dibakar nafsu birahi, anak gadis Evelyn seumuran TK itu diusir dari rumah. Agar bermain-main sendiri di pantai. Ia pun bermain-main, termasuk asyik berayun-ayun di atas sebuah ranjau laut. Ranjau itu kemudian meledak. Kejadian itu pula yang membuat Joe muda kabur dari kampung halamannya.

Saat Joe mudik, ia juga menemui Ruth, gadis tercinta yang ia khianati, yang dulu pula ia tinggalkan. Masa lalu keduanya terukir indah dalam kilas kalik ketika berduet menyanyikan lagu “If There Is Something” dari Roxy Music dalam sebuah pesta.

Dalam kilas balik lainnya, pada percakapan keluarga Joe saat muda, sempat mencuat topik obrolan tentang masa lalu dan masa kini. “Ketika mendapati seseorang tua, yang terbaring lemah di ranjang mendekati kematian, dapatkah kita membayangkan apa saja yang ia jalani ketika pada masa mudanya ?”


Wanita indah. Umpama pertanyaan itu diajukan kepada saya, pada tanggal 20 Desember 2005, di sisi Widhiana Laneza, saya tidak tahu mau bilang apa.

Anez saat itu, tentu saja, bukan wanita tua. Saya tentu agak pangling, rambutnya saat itu menjadi pendek. Saya beruntung pada tahun 1980-an dikaruniai kesempatan untuk melihat saat rambutnya panjang tergerai. Melengkapi sosok ningratnya yang membuat saya jatuh cinta.

Juga untuk tahu dirinya dalam sepenggal kehidupannya : ketika Anez menjadi mahasiswi Diploma 3 Bahasa Perancis dan sekaligus mahasiswi Jurusan Arkeologi Fakultas Satra Universitas Indonesia.

Mosaik yang bisa saya ingat, antara lain, ketika berkunjung ke rumahnya, ia nampak antusias bercerita tentang anjing-anjingnya. Ada yang bernama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis), Pancho atau Cakil, Bobi sampai Minggo. Pesona hubungan itu pula yang kemudian membuat saya bisa menulis buku (cinta) untuknya, Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987).

Dalam kesempatan lain, 1 Februari 1987, ia bercerita tentang fenomena ahli bengkok sendok dengan kekuatan paranormal, yaitu Uri Geller. Ahli psychic asal Israel ini lahir tanggal 20 Desember 1946.

Tanggal yang sama pada tahun 2005, adalah tanggal saat Anez meninggal dunia. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum, Jeruk Purut, dekat rumah orang tuanya di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Lahir di Brussel, Belgia dan meninggal dunia di Denpasar. Tiga hari setelah hari pernikahannya.

Saya diberitahu berita pedih itu oleh kakaknya, Verdi Amaranto, 22 Desember 2005. Setelah ia melakukan googling di Internet. Ia juga memberi beberapa foto, termasuk foto Anez kecil (foto di bawah) dengan boneka anjingnya saat dijepret di Hanoi, 1969.

Kembalikan ke masa mudamu. Pada bagian akhir film Flashbacks of a Fool nampak Joe Scot memutar kembali piringan hitam lagu “If There Is Something.” Lalu ia menuliskan sebagian liriknya dalam sebuah surat. Untuk Ruth.

“Shake your hair girl with your ponytail
Takes me right back (when you were young)”

Ruth, gadis tercintanya masa dulu itu dan janda sahabat karibnya yang meninggal itu, nampak meledak dalam tangis. Tayangan keduanya saat berduet di masa muda menutup film pedih sekaligus indah itu. Lirik “If There Is Something” menggema, dan saya berharap Anez juga mendengarnya :

Goyangkan rambutmu dengan ekor kudamu
Kembalikan diriku (ketika kau muda dulu)

Lemparkan hadiah-hadiah indahmu ke udara
Saksikan ia berjatuhan di bumi (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Di tempat biasa kau tapaki (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika bukit-bukit semakin meninggi (ketika kita muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika pepohonan semakin menjulang tinggi (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika rerumputan semakin menghijau (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Di tempat biasa kau tapaki (ketika kau muda dulu)



Wonogiri, 20-22 Desember 2009

Labels: , , , , , , , , ,